Thursday, 01 October, 2020

BPS: Agustus’2020 Terjadi Deflasi Sebesar 0,05%, Apa Artinya?



Ajaib.co.id – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat terjadi deflasi sebesar 0,05 persen secara bulanan (month-to-month/mtm) pada Agustus 2020, lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang mengalami deflasi 0,10 persen.

Sementara itu, secara tahunan (year-on-year/yoy) masih terjadi inflasi 1,32 persen pada, sedangkan pada tahun berjalan (year-to-date/ytd) masih terjadi inflasi sebesar 0,93 persen. Berdasarkan wilayahnya, terjadi deflasi di 90 kota.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, Berdasarkan kelompok pengeluaran, maka sebanyak dua kelompok mengalami deflasi, sedangkan lainnya mengalami inflasi. Deflasi tertinggi terjadi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar minus 0,86 persen, dengan andil kepada deflasi minus 0,22 persen.

Kemudian, kelompok transportasi juga
mengalami deflasi sebesar 0,14 persen, dengan andil kepada inflasi 0,02 persen.
Deflasi pada kelompok ini dipicu oleh penurunan tarif angkutan udara.

Ini Penyebab
Deflasi bulan Agustus 2020

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, deflasi
yang terjadi tak lepas dari pandemi Covid-19 yang masih terjadi. Bahkan,
kondisi ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi merata di seluruh
negara-negara di dunia.

“Pandemi ini menyebabkan lemahnya daya
beli, sehingga hampir seluruh negara mengalami perlambatan inflasi dan bahkan
deflasi. Apalagi, kita sadar kalau Covid-19 ini menghantam seluruh lapisan
masyarakat,” ujar Suhariyanto, Selasa (1/9), seperti diberitakan Kontan.co.id.

Selain pelemahan daya beli, Suhariyanto
juga menyebut kalau deflasi juga datang dari sisi supply. Oleh karena kebijakan
pemerintah, ketersediaan pasokan pun terjamin. Suhariyanto melanjutkan, saat
ini pemerintah telah menggulirkan berbagai kebijakan untuk pemulihan
perekonomian Indonesia dari Covid-19. Ia berharap, dengan kebijakan-kebijakan
tersebut, indikator perekonomian bisa kembali normal.

“Namun, di sisi lain, nampaknya daya
beli masyarakat butuh waktu untuk kembali ke posisi normal atau pra Covid-19,”
tambahnya.

Ini Kata
Pengamat Mengenai Deflasi bulan Agustus 2020

Peneliti ekonomi senior Institut Kajian
Strategis (IKS) Eric Sugandi menilai, deflasi pada bulan Agustus 2020 terjadi
karena kommbinasi dari peningkatan pasokan barang dan jasa selama pemberlakuan
adaptasi kebiasaan baru (AKB) dan masih lemahnya permintaan barang dan jasa
oleh rumah tangga.

Untuk mengungkit daya beli masyarakat ini,
Eric menilai, program pemulihan ekonomi nasional (PEN) sudah mencakup program
pemulihan daya beli masyarakat, bahkan bisnis, dan usaha mikro kecil menengah
(UMKM).

“Lalu, tinggal bagaimana mempercepat
penyaluran dana PEN ini,” imbuh Eric kepada Kontan.co.id, Selasa (1/9).

Selain dengan program yang telah digulirkan
oleh pemerintah, Eric menilai, pembukaan sektor-sektor perekonomian secara
bertahap juga bisa membantu memulihkan daya beli.

Dari faktor eksternal, harga-harga
komoditas juga sudah mulai membaik. Pun dengan ekspor Indonesia juga sudah membukukan
kinerja yang membaik akibat negara-negara tujuan ekspor mulai kembali membuka
sektor perekonomian mereka.

“Sehingga ini, mampu membantu
rumah-rumah tangga yang pendapatannya bergantung pada ekspor komoditas,”
tambah Eric.

Namun, Eric memberi catatan, semuanya itu
bisa lebih maksimal kalau wabah Covid-19 sudah mulai bisa dikendalikan.
Pemulihan ekonomi bisa lebih cebat bila sudah ada vaksin, juga obat dari virus
ini.

Dengan angka deflasi 0,05%, tingkat inflasi
tahun kalender atau dalam periode Januari 2020 hingga Agustus 2020, tercatat
sebesar 0,93% ytd. Sementara itu, dari tahun ke tahun terjadi inflasi sebesar
1,32% yoy.

Eric pun memprediksi, inflasi tahunan di
keseluruhan tahun 2020 ini akan bergerak di kisaran 2,5% hingga 2,8% yoy.





Source link

0 comments on “BPS: Agustus’2020 Terjadi Deflasi Sebesar 0,05%, Apa Artinya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *