Thursday, 15 October, 2020

Cara Fund Manager Kelola Portofolio yang Bisa Kalahkan Indeks



Ajaib.co.id – Sebagai seorang investor, kamu baru dikatakan sukses berinvestasi ketika portofoliomu sudah mampu mengalahkan benchmark investasimu. Sering kali kinerja investasi reksa dana yang dikelola fund manager mampu mengalahkan benchmark investasinya.

Jika seorang investor ritel bertemu dengan seorang fund manager dalam berbagai kesempatan maka pertanyaan yang dilontarkan tidak jauh dari informasi  saham-saham mana saja yang akan dibeli oleh reksa dana. Padahal keberhasilan mengelola reksa dana bukan hanya berpusat pada pemilihan saham saja lho, namun lebih kepada penentuan alokasi aset.

Dalam publikasi yang berjudul “Determinant of Portfolio Performance” disebutkan bahwa penentuan alokasi aset menentukan 93,6% kesuksesan sebuah manajemen portofolio. Sisanya sebesar 6,4% ditentukan oleh Market Timing , pemilihan saham dan lainnya. Meski publikasi tersebut diterbitkan sejak 20 tahun lalu, namun masih tetap relevan dan menjadi rujukan berbagai buku keuangan hingga saat ini. Berbagai penelitian tentang alokasi aset selanjutnya dilakukan untuk melihat relevansinya sepanjang waktu.

Alokasi
aset maksudnya adalah menentukan bobot komposisi saham dalam sebuah portofolio.
Misalnya saja kamu memiliki modal awal 10 juta rupiah dan kamu berencana untuk
melakukan diversifikasi dengan membeli 15 sampai 20 saham. Kamu harus tentukan
saham mana saja yang secara jumlah lot akan lebih banyak kamu koleksi dan mana
saja yang lebih sedikit, inilah yang disebut dengan pembobotan.

Menentukan
bobot tidak boleh dengan cara dibagi rata semua, harus ada beberapa saham yang
dibeli lebih banyak atau lebih sedikit dari yang lainnya.

Pengelolaan
Portofolio oleh Fund Manager

Seorang
fund manager akan melakukan pengelolaan portofolio dengan langkah-langkah
sebagai berikut:

  1. Menentukan
    jenis aset (saham, obligasi atau deposito) yang akan dibeli atau dijual dengan
    melihat tujuan reksa dana kelolaannya. Jika reksa dana yang dikelola bersifat long term
    sebagai dana pensiun maka aset yang dipilih adalah saham.
  2. Menentukan
    sub aset, seperti saham-saham dari sektor apa saja yang hendak dikoleksi.
  3. Menentukan
    benchmark untuk melakukan alokasi
    aset. Jika portofolio berisikan aset berupa saham, maka benchmark yang
    digunakan adalah IHSG. Jika portofolio yang dikelola dimaksudkan untuk
    menyerupai indeks, maka benchmark-nya adalah IDX30.
  4. Menentukan
    pembobotan saham atau sektor saham, apakah normal
    weight, overweight atau underweight
    pada masing-masing saham atau sektor dalam portofolio.
  5. Melakukan
    pemilihan aset berdasarkan kriteria yang diinginkan, misalnya jika yang dikejar
    adalah capital gain maka seharusnya saham-saham yang undervalued yang banyak dipilih.
  6. Market Timing
    – mengamati pergerakan naik-turunnya harga untuk melakukan penyesuaian.

Cara
Melakukan Pembobotan

Proses aset alokasi yang
dideskripsikan berikut menggunakan contoh reksa dana saham. Pembobotan
dilakukan dengan melihat bobot suatu saham atau sektor terhada IHSG atau indeks
lain yang jadi benchmark-nya.
Misalnya saham Astra Internasional Tbk (ASII) yang memiliki bobot 10% dari
IHSG.

Jika kemudian kamu membelikan 10% dari
modalmu untuk ASII, maka artinya bobot ASII dalam portofoliomu dapat dikatakan normal weight. Jika kurang dari 10%, misalnya 8% maka artinya bobot saham
ASII milikmu underweight. Lebih dari
10% maka overweight alias kelebihan
bobot.

Nah, jika seorang investor bertanya saham
apa yang berpeluang naik dalam waktu dekat biasanya seorang fund manager hanya
menjawab “Kami overweight di sektor
keuangan” misalnya. Hal itu menandakan bahwa dalam portofolio kelolaannya,
saham-saham bank dan leasing mendapat porsi modal yang lebih banyak dari saham
sektor lain.

Pentingnya alokasi aset dalam
kesuksesan sebuah portofolio mengalahkan indeks sudah berulang kali diteliti.
Hasilnya pun beragam dan kebanyakan alokasi aset berkontribusi sekitar 30%-70%
terhadap keberhasilan portofolio dalam mengalahkan benchmark.

Terlepas dari berapa besar alokasi
aset berkontribusi pada kesuksesan portofoliomu, memang benar adanya bahwa
pembobotan dalam alokasi aset menjadi faktor penting bagi Manajer Investasi
dalam mengelola portofolio reksa dana. Fokus dalam tulisan ini adalah
memberikan gambaran bagaimana cara fund
manager melakukan pengelolaan
portofolio. Berikut tipsnya;

  • Menentukan benchmark/acuan

Ada banyak jenis reksa dana indeks di
pasaran saat ini yang dibuat untuk menyamai indeks tertentu, ada yang
berpatokan pada LQ-45, Kompas 100, dan lain-lain. Jumlah saham dalam kedua
indeks yang disebutkan barusan cukup banyak. Oleh karenanya banyak fund manager
yang menggunakan IDX30 sebagai acuan karena anggota saham dalam indeks tersebut
hanya 30 saja.

IDX30 adalah sebuah indeks buatan
Bursa Efek Indonesia (BEI) yang berisikan saham-saham dengan likuiditas tinggi
dan kapitalisasi besar.

Berikut 30 saham yang tergabung ke
dalam IDX30 yang mulai berlaku sejak 3 Agustus
2020
 

IDX30
Periode Agustus s.d. Oktober 2020
No. Kode Nama
Saham
1 ACES Ace Hardware Indonesia
Tbk.
2 ADRO Adaro Energy Tbk.
3 ANTM Aneka Tambang Tbk.
4 ASII Astra International
Tbk.
5 BBCA Bank Central Asia Tbk.
6 BBNI Bank Negara Indonesia
(Persero) Tbk.
7 BBRI Bank Rakyat Indonesia
(Persero) Tbk.
8 BBTN Bank Tabungan Negara
(Persero) Tbk.
9 BMRI Bank Mandiri (Persero)
Tbk.
10 BTPS Bank BTPN Syariah Tbk.
11 CPIN Charoen Pokphand
Indonesia Tbk
12 ERAA Erajaya Swasembada
Tbk.
13 EXCL XL Axiata Tbk.
14 GGRM Gudang Garam Tbk.
15 HMSP H.M. Sampoerna Tbk.
16 ICBP Indofood CBP Sukses
Makmur Tbk.
17 INCO Vale Indonesia Tbk.
18 INDF Indofood Sukses Makmur
Tbk.
19 INKP Indah Kiat Pulp &
Paper Tbk.
20 INTP Indocement Tunggal Prakarsa
Tbk.
21 JPFA Japfa Comfeed
Indonesia Tbk.
22 KLBF Kalbe Farma Tbk.
23 MNCN Media Nusantara Citra
Tbk.
24 PGAS Perusahaan Gas Negara
Tbk.
25 PTBA Bukit Asam Tbk.
26 SMGR Semen Indonesia
(Persero) Tbk.
27 TLKM Telekomunikasi
Indonesia (Persero) Tbk.
28 TOWR Sarana Menara
Nusantara Tbk.
29 UNTR United Tractors Tbk.
30 UNVR Unilever Indonesia
Tbk.
sumber: https://www.idx.co.id/data-pasar/data-saham/indeks-saham/

IDX30 sering dijadikan acuan reksa dana indeks karena pilihan sahamnya tidak terlalu banyak seperti IHSG namun kinerjanya mampu mendekati IHSG. Seringkali juga melampaui kinerja IHSG. Berikut data yang diperoleh dari IDX.

  • Ketahui bobot saham dan sektor saham dalam IDX 30

Selanjutnya
seorang fund manager akan mencari tahu bobot dalam IDX30.

Bobot
saham ditentukan dari Kapitalisasi Sahamnya. Secara matematis, kapitalisasi
saham adalah perkalian harga saham dengan jumlah saham beredar. Kapitalisasi
pasar adalah nilai akuisisi suatu perusahaan. Selanjutnya nilai kapitalisasi
pasar dari masing-masing saham dibandingkan dengan total kapitalisasi pasar
suatu indeks acuannya.

Berikutnya adalah membuat daftar kapitalisasi pasar atas saham-saham dalam IDX30. Misalnya saja seperti yang dicontohkan oleh Rudiyanto, yang kini menjadi Direktur PT. Panin Asset Management, di tahun 2015 di bawah ini;

Sumber: Rudiyanto – Infovesta Kontan

Untuk
perhitungan bobot sektor dalam IDX30, BEI sudah menyediakannya dalam lembar
fact sheet index yang bisa diunduh di https://www.idx.co.id/data-pasar/laporan-statistik/fact-sheet-indeks/.

Bobot sektor saham dalam IDX30 yang terbaru per 31 Desember 2019 adalah sebagai berikut;

Sumber:
Website IDX – Fact Sheet Index

  • Lakukan Pemilihan Saham/Security Selection

Seorang
fund manager kemudian akan berusaha menemukan saham dengan fundamental
bagus dan di bawah harga wajarnya. Karena benchmark-nya adalah IDX30 maka
pemilian saham dilakukan terhadap saham-saham yang berada dalam daftar IDX30. Fund Manager
juga akan pertimbangkan karakter saham-saham yang diincar apakah siklikal,
asset play atau turn around, atau lainnya.

Saham
yang dipilih akan menyesuaikan tujuan yang diinginkan, misalnya lebih memilih
analisis value investing karena tujuannya adalah mengelola dana untuk pensiun.

Penentuan stockpick (saham pilihan) bukanlah satu-satunya hal yang dilakukan
oleh fund manager. Selain itu seorang fund
manager juga mesti tunduk pada aturan
penempatan dana dengan batas maksimal 10% dari modal (persentase modal bisa
menyesuaikan masing-masing kebijakan manajer investasi). Oleh karena itu dalam
sebuah portofolio biasanya terdapat lebih dari 10 saham. Hal itu dinamakan
dengan diversifikasi. Dengan melakukan diversifikasi pada aset dalam
portofolio, maka risiko akan tersebar dan akan terhindar dari kerugian besar
jika pasar saham secara umum mengalami penurunan.

  • Lakukan Analisis Pembobotan

Setelah
mengetahui bobot pada masing-masing saham dan sektor dan mengetahui saham apa
saja yang hendak dibeli, maka langkah berikutnya adalah melakukan analisis
pembobotan.

Pembobotan dilakukan untuk menentukan apakah kamu akan overweight pada sektor tertentu atau underweight di sektor lain. Berikut contoh dari Rudiyanto tentang pembobotan masing-masing sektor dalam IDX30 di tahun 2015;

Tabel
di atas adalah contoh saja. Semua akan menyesuaikan dengan kecenderungan sang fund manager,
misalnya saja di sektor Aneka Industri sang fund
manager merasa bahwa prospek selama
beberapa bulan ke depan tidak akan terlalu baik, maka alokasi modal di sektor
itu dapat kam turunkan/underweight.

Sebaliknya
sang fund manager merasa bahwa sektor perdagangan akan naik. Ekspektasi yang
diberikan pada sektor ini tinggi karena sang fund manager merasa bahwa
kinerja perusahaan di atas ekspektasi, maka alokasi modal untuk saham di sektor
perdagangan bisa dinaikkan/overweight.

Demikian
cara untuk melakukan Alokasi Aset ala fund
manager.

Selanjutnya para fund manager akan
melakukan market timing, alias evaluasi strategi membeli dan menjual aset dalam
portofolionya. Hal itu karena dana kelolaan mereka yang sudah sangat besar.
Tindakan melepas dan mengoleksi saham tidak bisa dilakukan dalam sekali atau
dua kali transaksi. Karena dana yang disebut smart money ini
berpotensi mengerek naik tinggi atau menjatuhkan harga saham secara jangka
pendek. Hal tersebut bisa menyebabkan ketidakseimbangan permintaan dan
penawaran.

Untuk mengatasi ketidakseimbangan
permintaan-penawaran saham disebabkan smart
money, ada sebuah peraturan yang
diciptakan untuk reksa dana saham di Indonesia. Jadi, semua reksa dana saham
wajib tunduk pada aturan “Aset alokasi pada reksa dana saham yang
diperbolehkan adalah antara 80 – 120% dibandingkan indeks acuannya”. Dengan
demikian walaupun reksa dana tersebut mengacu ke suatu indeks, bobot alokasi di
reksa dana saham tidak sama.

Karena
dikelola secara aktif, makanya fee yang dibayarkan lebih tinggi daripada reksa
dana indeks. Untuk reksa dana indeks, pengelolaan bersifat pasif karena hanya
tinggal mengikuti bobot yang terdapat dalam indeks yang menjadi benchmark-nya.

Di
sini kamu sebagai investor ritel lebih diuntungkan karena dengan dana kelolaan
milikmu sendiri yang jauh di bawah besaran dana kelolaan fund manager, kamu bisa
perbesar pembobotan dalam alokasi aset di portofoliomu.





Source link

0 comments on “Cara Fund Manager Kelola Portofolio yang Bisa Kalahkan Indeks

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *