Friday, 18 September, 2020

Duh, Wanita Lebih Banyak Kehilangan Pekerjaan Akibat COVID-19


Hampir 36,5 juta orang diklaim menjadi kehilangan pekerjaan dan pengangguran dalam dua bulan terakhir sebagai dampak dari pandemi global COVID-19. Meskipun pandemi sangat berdampak pada hilangnya lapangan pekerjaan di seluruh dunia, tetapi data dari Biro Statistik Tenaga Kerja Amerika Serikat (AS) menunjukkan bahwa kaum wanita merasakan beban dan dampaknya kerugiannya lebih besar dibandingkan kaum pria.

Pada bulan April lalu, pekerja wanita mengisi sekitar 55% dari 20,5 juta pekerja yang kehilangan pekerjaan. Berdasarkan Pusat Hukum Wanita Nasional AS (NWLC), jumlah wanita yang kehilangan mata pencarian pada bulan April lebih besar 11,1 juta pekerjaan yang diterima oleh kaum wanita di antara akhir era Great Recession pada Juli 2010 hingga awal krisis COVID-19 pada Februari 2020.

Emily Martin, Wakil Presiden dari Bidang Keadilan dan Pendidikan di NWLC mengungkapkan bahwa jumlah hilangnya pekerjaan pada April lalu memberikan kesan bahwa kaum wanita adalah target utama dari Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di masa pandemi COVID-19. Hampir di semua industri seperti perhotelan, pendidikan, perawatan kesehatan, ritel, dan sektor-sektor yang mendapatkan dampak langsung dari COVID-19, pekerja wanita yang menjadi korban gelombang pertama pemecatan skala besar oleh perusahaan.

Di sejumlah industri di mana pemangkasan pegawai dilakukan untuk efisiensi, pekerja wanita tidak hanya kehilangan pekerjaan, tetapi tingkat hilangnya pekerjaan kaum wanita meningkat jauh lebih tinggi dibandingkan kaum pria di sektor yang sama. Misalnya, pada sektor hospitality, pekerja wanita menyumbang 52% dari tenaga kerja industri, tetapi 54% nya terpaksa diberhentikan. Sementara di sektor pendidikan dan pelayanan kesehatan yang wanita merupakan 77% tenaga kerjanya, 83% dari mereka terpaksa diberhentikan akibat COVID-19.

Sektor lain yang juga berperan meningkatkan angka pengangguran pada pekerja wanita adalah industri ritel. Wanita menyumbang 48% tenaga kerja, tetapi malah menyumbang sekitar 61% yang terpaksa dirumahkan. Di sektor Pemerintahan Daerah dan Negara Bagian pun sama, wanita memiliki sekitar 58% dari tenaga kerja tetapi justru 63% dari mereka harus kehilangan pekerjaan.

Dalam wawancara dengan CNBC, Martin mengatakan bahwa tingkat yang tidak proporsional ini, di mana pekerja wanita yang paling dirugikan karena lebih banyak kehilangan pekerjaan dibandingkan pekerja pria tidak hanya terkait dengan industri yang diwakili wanita, tetapi juga terkait dengan jenis peran yang biasanya ditekuni oleh wanita dalam industri tersebut.

Pekerja wanita secara tidak proporsional adalah mereka yang melakukan pekerjaan dengan bayaran yang lebih rendah dibandingkan pekerja pria dalam ekonomi negara, dengan pekerja wanita yang berasal dari kaum minoritas, seperti keturunan kulit hitam atau Hispanik menjadi yang paling sering mendapatkan peran pekerjaan dengan upah yang lebih rendah. Jadi, ketika krisis ekonomi melanda, pekerjaan ini seringkali yang menjadi target pertama untuk dikorbankan.

Untuk saat ini, ada lebih dari 23 juta pekerja dengan gaji rendah, dengan pekerja mengambil porsi sekitar 67% dibandingkan pria di angka 33%. Berdasarkan laporan NWLC, definisi pekerja bergaji rendah adalah pekerja-pekerja yang dibayar $11 per jam atau sekitar Rp160.000, meliputi perawat anak, pramusaji restoran, pembantu rumah tangga, dan kasir. Bahkan dalam pekerjaan-pekerjaan berupah rendah ini, ditemukan bahwa wanita mendapatkan gaji rata-rata lebih kecil 15% dibandingkan rekan-rekan pria di posisi yang sama.

Hal lain yang benar-benar unik tentang krisis saat ini dibandingkan dengan resesi di tahun-tahun sebelumnya adalah pada kondisi kontraksi ekonomi sekarang, seluruh infrastruktur pengasuhan anak di seluruh negara bagian AS ditutup. Martin mengungkapkan bahwa pekerjaan pengasuhan ini mayoritas diisi oleh pekerja wanita.

Hilangnya potensi pendapatan dari sektor pengasuhan anak dapat mempengaruhi pekerjaan mereka. Ini sebabnya mengapa wanita merasakan kerugian paling terasa karena fleksibilitas mereka anjlok pada saat para pemberi pekerjaan masih mencari tahu posisi apa yang harus dikorbankan.

Istri sekaligus filantropis Bill Gates, Melinda Gates menyatakan keprihatinannya tentang krisis pengasuhan anak di masa krisis ini. Dalam wawancara dengan CNBC, wanita berusia 55 tahun ini mengungkapkan bahwa untuk mencegah hilangnya pendapatan bagi pekerja wanita karena tanggung jawab pengasuhan anak, Kongres AS perlu melihat kebijakan cuti medis keluarga. Untuk saat ini, AS merupakan negara satu-satunya yang tidak menerapkan kebijakan tersebut.

Selain cuti keluarga berbayar menjadi komponen penting untuk menjaga pekerja wanita di lingkungan pekerjaan, Martin juga berpendapat bahwa  perusahaan perlu memprioritaskan keragaman dan upaya inklusi untuk memastikan bahwa wanita dari komunitas minoritas tidak diabaikan begitu saja dalam perkembangan ekonomi negara.

Martin juga mengkritik perusahaan mana pun yang tidak memperdulikan inisiatif tentang keragaman dan upaya inklusivitas dalam dunia pekerjaan. Menurutnya, pemulihan ekonomi tidak akan berjalan sukses jika tidak benar-benar memusatkan perhatian pada pekerja wanita yang paling dirugikan, terlebih wanita yang berasal dari komunitas minoritas.

Perusahaan perlu memperhatikan dengan seksama siapa yang perlu diberhentikan dari pekerjaan dan siapa yang harus ditarik kembali untuk bekerja berdasarkan kapasitas dan kompetensinya dalam bekerja, bukan dari jenis kelamin atau dari golongan tertentu. Jika perusahaan masih menerapkan praktik seperti ini dalam mengambil keputusan memecat pegawai, justru hanya akan menciptakan momen yang lebih buruk dan memperdalam kesenjangan gaji gender dan ras, serta kesenjangan kekayaan yang telah diperjuangkan.

Di tengah krisis seperti ini, sudah sepantasnya instansi terkait dan seluruh lapisan masyarakat bekerja sama dalam mengurangi isu kehilangan pekerjaan dan menciptakan inklusivitas yang bersahabat di industri manapun.

 

0 comments on “Duh, Wanita Lebih Banyak Kehilangan Pekerjaan Akibat COVID-19

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *